TribunKsn - Keluarga miskin menjadi kelompok yang paling terkena pengaruh besar di balik keputusan satu negara untuk menutup wilayah (
lockdown) akibat
virus corona. Tak terkecuali bagi keluarga miskin yang tinggal di
negara kaya seperti
Jerman.
Lockdown memaksa orang tua dan anak-anak untuk tinggal di rumah. Tak jarang kondisi ini memicu emosi dan kekerasan rumah tangga lantaran tidak ada aktivitas sosial di tengah pembatasan.
Selain itu, keluarga miskin juga harus berjuang ekstra untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari terutama untuk membeli makanan.
Kelompok sosial menuding pemerintah
Jerman mengabaikan keluarga miskin di tengah upaya memerangi
virus corona. Menurut angka resmi, diperkirakan ada dua juta anak miskin di
Jerman hidup dalam kemiskinan.
Salah satu lembaga amal yang biasanya membantu
1.300 orang miskin di seluruh
Jerman kini harus menyalurkan bantuan berupa makanan,
popok bayi,
sabun, dan
mainan anak langsung ke rumah-
rumah.
Padahal di hari biasa, anak-anak bisa mengunjungi satu
27 pusat penitipan anak untuk mendapatkan
makan siang gratis,
bimbingan belajar, dan
layanan konseling.
Merespons penyebaran
Covid-
19,
juru bicara lembaga sosial Arche,
Wolfgang Buescher mengatakan kebijakan jaga jarak sosial (
social distancing) menjadi momen memilukan lantaran mereka tetap harus mengantarkan bantuan ke keluarga miskin.
Selain terkendala aturan
social distancing, para
sukarelawan ini juga kesulitan menjangkau beberapa keluarga yang tinggal di lantai atas rumah susun. Untuk menyiasati, tim harus memutar otak agar bantuan tetap bisa sampai ke tangan mereka.
"Anda bisa membayangkan apa yang terjadi di sana," kata
Buescher.
Buescher mengatakan anak-anak yang hidup di garis kemiskinan merupakan kelompok yang berjuang lebih keras.
Mengutip
Associated Press, tanpa bantuan
makanan gratis di sekolah, keluarga miskin harus merogoh kocek rata-rata lebih dari
250 euro atau sekitar
Rp4,4 juta dalam sebulan hanya untuk kebutuhan pokok.
Sebagai alternatif, para sukarelawan kini mengajarkan anak-anak yang beranjak remaja dan dewasa untuk menggunakan aplikasi konferensi video untuk berbincang dan mengecek kondisi mereka.
Berdasarkan data yang dirilis
John Hopkins University,
Jerman merupakan negara kelima dengan kasus
Covid-19 terbesar di dunia. Hingga
Rabu (18/4) sekitar 107.663 kasus virus corona dengan
2.016 kematian dan
36.081 pasien dinyatakan sembuh.
0 Comments